Refleksi Patriark Yerusalem: Kardinal Pierbattista Pizzaballa dan Harapan Baru Perdamaian di Tanah Suci


Ketika dunia menyambut kesepakatan bersejarah antara Israel dan Hamas, muncul suara dari jantung Tanah Suci yang mengajak manusia kembali pada kemanusiaannya.

Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, menyerukan agar masyarakat menatap masa depan dengan damai dan tanpa rasa takut.

Baginya, perdamaian sejati tidak lahir dari kemenangan satu pihak, melainkan dari keberanian untuk saling memahami dan berdamai dengan luka masa lalu.


“Kita memiliki kewajiban terhadap komunitas kita untuk menolong mereka menatap masa depan dengan tenang dan positif,”

— Kardinal Pierbattista Pizzaballa


Refleksi ini bukan sekadar warta rohani, melainkan pesan universal: bahwa harapan masih mungkin, bahkan di tanah yang telah lama berlumur air mata.


Refleksi Tanah Suci: Harapan Baru Setelah Kesepakatan Israel–Hamas


Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas menandai momen penting dalam sejarah panjang konflik di Timur Tengah. Dunia menatap Tanah Suci dengan campuran lega dan ragu, sebab di balik kesepakatan politik, masih ada luka mendalam yang belum sembuh.

Dalam suasana ini, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mengajak dunia untuk melihat ke depan dengan pandangan baru  bukan sekadar merayakan berhentinya perang, tetapi menumbuhkan semangat hidup bersama yang damai.


“Kita memiliki kewajiban terhadap komunitas kita untuk menolong mereka menatap masa depan dengan tenang dan positif,” ujar Kardinal Pizzaballa.

(Vatican News, Oktober 2025)


Baca Juga: 


Sejarah Pulau Komodo & Kehidupan Masyarakat Ata Modo


Dari Luka Menuju Harapan


Ucapan itu tampak sederhana, namun mencerminkan kedalaman spiritual dan tanggung jawab moral. Pizzaballa memahami bahwa perdamaian sejati tidak cukup dengan perjanjian atau tanda tangan di meja diplomasi. Ia harus hidup dalam hati masyarakat — mereka yang kehilangan keluarga, rumah, dan rasa aman.


Tanah Suci masih menyimpan kesedihan mendalam: ribuan pengungsi mencari tempat tinggal, anak-anak kehilangan sekolah, dan banyak keluarga terpisah tanpa kabar.

Namun di tengah kehancuran itulah, Pizzaballa mengajak semua pihak menanam kembali benih harapan. Ia menegaskan bahwa akhir kekerasan bukanlah akhir penderitaan, melainkan awal dari proses penyembuhan panjang.


“Perdamaian sejati tidak dibangun dalam sehari. Ia membutuhkan waktu, empati, dan keberanian untuk mendengarkan pihak lain tanpa prasangka,” katanya.

(Catholic News Agency, Oktober 2025)

Rekonsiliasi sebagai Tugas Kemanusiaan


Menurut Pizzaballa, rekonsiliasi adalah perjalanan batin dan sosial yang harus dilalui bersama. Gereja dan masyarakat sipil memiliki tanggung jawab besar untuk membangun kembali kepercayaan yang telah hancur.

Ia menyerukan agar setiap tindakan kebaikan, sekecil apa pun, menjadi jembatan antara mereka yang dulu terpisah oleh kebencian.


Lebih dari sekadar seruan iman, refleksi Pizzaballa adalah panggilan kemanusiaan universal: agar manusia belajar melihat penderitaan orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Dalam wawancara dengan The Catholic Standard (Oktober 2025), ia menegaskan,


“Perdamaian sejati tidak dibangun di atas kemenangan satu pihak, melainkan di atas pengakuan terhadap penderitaan semua pihak.”

Cahaya dari Tanah yang Luka


Kardinal Pizzaballa bukan sekadar pemimpin Gereja; ia menjadi simbol keteguhan moral di tengah badai. Ia hadir di garis depan, menyapa umat dari berbagai latar belakang agama, mendengarkan kisah mereka yang kehilangan, dan menegaskan bahwa iman sejati adalah keberanian untuk tetap percaya di tengah kehancuran.


Baginya, doa dan solidaritas bukan hanya ritual rohani, tetapi tindakan nyata untuk memulihkan martabat manusia.

“Perdamaian bukan sekadar tiadanya perang,” ujarnya, “tetapi kehadiran keadilan, kasih, dan pengharapan.”


Pernyataan ini menjadi semacam manifesto moral bagi dunia modern: bahwa diplomasi tanpa kemanusiaan tidak akan menghasilkan apa pun. Perdamaian tidak akan lahir dari ambisi politik, tetapi dari kemauan untuk memahami dan menghormati sesama.

Tanah Suci, Cermin Dunia

Yerusalem  kota yang menjadi jantung spiritual tiga agama besar dunia kini memantulkan wajah dunia itu sendiri: beragam, rapuh, tetapi penuh potensi untuk bersatu.

Pizzaballa menegaskan bahwa perbedaan seharusnya menjadi sumber dialog, bukan alasan untuk saling menghancurkan. Ia menyerukan agar setiap pemimpin agama dan politik melihat diri mereka bukan sebagai wakil kelompok, tetapi sebagai penjaga kehidupan manusia.


Tanah Suci, katanya, adalah simbol dari kerinduan universal manusia untuk menemukan rumah bagi damai. Dan selama harapan itu masih ada, dunia tidak sepenuhnya gelap.

Dari Yerusalem untuk Dunia


Pesan Pizzaballa melintasi batas wilayah dan keyakinan. Ia berbicara bukan hanya kepada umat Katolik, tetapi kepada setiap orang yang percaya bahwa kemanusiaan masih memiliki masa depan.

Di dunia yang mudah terbakar oleh kebencian, suaranya menjadi pengingat lembut: bahwa empati adalah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh semua hati.


Dalam konteks global, refleksi ini penting. Dunia sedang menghadapi polarisasi, disinformasi, dan krisis moral. Apa yang terjadi di Tanah Suci mencerminkan kebutuhan universal: menemukan kembali arti menjadi manusia.

Dan seperti yang diungkapkan Pizzaballa, masa depan tidak hanya milik mereka yang kuat, tetapi milik mereka yang mau membangun bersama.

Harapan Tak Pernah Mati


Di tengah reruntuhan Gaza dan bayang-bayang tembok Yerusalem, secercah harapan tetap menyala.

Itu bukan cahaya politik atau kemenangan diplomatik, tetapi cahaya kemanusiaan.

Selama masih ada orang yang menolak menyerah pada kebencian, dunia memiliki alasan untuk percaya.


Kardinal Pizzaballa menutup refleksinya dengan nada yang lembut namun penuh makna:


“Kita tidak boleh berhenti percaya pada kebaikan. Bahkan setelah badai paling gelap, selalu ada ruang untuk menanam benih harapan.”


Pesan ini bukan hanya untuk umat di Yerusalem, tetapi untuk seluruh dunia.

Karena pada akhirnya, perdamaian tidak akan datang dari luar diri manusia ia harus tumbuh dari hati yang memilih untuk percaya pada kemanusiaan.



Refleksi Kardinal Pierbattista Pizzaballa mengingatkan dunia bahwa perdamaian sejati adalah perjalanan moral dan spiritual, bukan sekadar agenda politik.

Di tengah dunia yang kian terbelah, ia menawarkan arah baru: bahwa masa depan hanya bisa dibangun di atas fondasi empati, rekonsiliasi, dan harapan bersama.


Dari Tanah Suci yang pernah menjadi sumber konflik, kini muncul suara yang mengajak dunia untuk bersatu — membangun masa depan di mana manusia tidak lagi saling melukai, melainkan saling memahami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Inosentius Samsul: 35 Tahun di DPR Hingga Jadi Hakim Mahkamah Konstitusi

PPPK Paruh Waktu Diangkat Menjadi Penuh Waktu: Desakan DPR dan DPD RI ke Pemerintah untuk Segera Bertindak

Cara Cek PKH dan PIP 2025 Lewat HP: Panduan Lengkap, Mudah, dan Resmi

Permata Tersembunyi di Manggarai Barat: Menjelajahi Air Terjun Cunca Polo

Bangga! Uskup Paskalis Bruno Syukur OFM Terpilih Jadi Anggota Penting Dikasteri Hidup Bakti Hingga 2029