Google Tegaskan Komitmen Digitalisasi Pendidikan, Jelaskan Peran Chromebook di Era Menteri Nadiem Makarim
JAKARTA — Google menegaskan kembali komitmen jangka panjangnya dalam mendukung transformasi digital sektor pendidikan Indonesia, termasuk melalui pemanfaatan perangkat Chromebook, di tengah kebijakan digitalisasi pembelajaran yang dijalankan pada era Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Perusahaan teknologi global tersebut menekankan bahwa keterlibatannya di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu dekade dan tidak terkait dengan kepemimpinan atau keputusan pengadaan tertentu.
Penegasan tersebut disampaikan Google melalui pernyataan resmi berjudul Mendukung Masa Depan Digital Indonesia: Fakta Mengenai Kemitraan Kami di Sektor Pendidikan. Dalam pernyataan itu, Google menyatakan misinya sejak awal adalah mendukung siswa dan guru dengan teknologi pembelajaran yang aman, terjangkau, dan relevan dengan kondisi sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Google menyebut Chromebook sebagai perangkat pendidikan tingkat K-12 (TK hingga SMA) yang paling banyak digunakan di dunia, dengan lebih dari 50 juta siswa dan pendidik secara global. Di Indonesia, Chromebook telah digunakan oleh jutaan siswa dan guru di lebih dari 80.000 sekolah, termasuk di wilayah terpencil. Google menilai adopsi tersebut merupakan bagian dari visi pembelajaran digital jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Baca juga:
Menurut Google, Chromebook dirancang untuk menyesuaikan dengan realitas pembelajaran di lapangan. Meski berbasis komputasi awan, perangkat ini memiliki kemampuan untuk digunakan tanpa koneksi internet. Dalam kondisi offline, siswa tetap dapat membuat dan mengedit dokumen, mengelola file, serta menggunakan aplikasi tertentu yang mendukung mode luring. Fitur ini dinilai penting bagi sekolah-sekolah di daerah dengan keterbatasan infrastruktur jaringan.
Google juga menyatakan bahwa penggunaan Chromebook di Indonesia telah disesuaikan dengan regulasi Kementerian Pendidikan serta pedoman pengadaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik. Pedoman tersebut menekankan pendekatan solusi digital yang holistik, termasuk kesiapan konektivitas dan kelistrikan. Pendekatan serupa, menurut Google, telah diterapkan di berbagai negara seperti Brasil dan Jepang untuk menjangkau wilayah dengan tantangan geografis.
Terkait proses pengadaan, Google menegaskan tidak memproduksi maupun menjual perangkat Chromebook secara langsung dan tidak menentukan harga. Peran Google terbatas pada pengembangan serta pemberian lisensi sistem operasi ChromeOS dan perangkat lunak pengelolaan. Pengadaan perangkat keras sepenuhnya dilakukan oleh produsen peralatan asli (OEM) independen dan mitra lokal. Model ini disebut memastikan pemerintah tetap memiliki kendali penuh serta transparansi dalam proses pengadaan.
Google juga menjelaskan peran Chrome Education Upgrade (CEU) sebagai infrastruktur pengelolaan dan keamanan perangkat. Melalui CEU, kementerian dan sekolah dapat mengelola perangkat secara terpusat, menyaring konten, serta mengamankan perangkat apabila hilang atau disalahgunakan. Sistem ini digunakan secara global untuk melindungi aset publik dan memastikan keberlanjutan pemanfaatan perangkat pendidikan.
Di luar penyediaan teknologi, Google menegaskan bahwa komitmennya terhadap pendidikan Indonesia telah berjalan jauh sebelum kebijakan digitalisasi pembelajaran pada era Menteri Nadiem Makarim. Program Bangkit, yang dimulai pada 2019, telah melatih lebih dari 25.000 mahasiswa Indonesia dalam keterampilan teknologi yang dibutuhkan industri digital. Google.org juga menyalurkan hibah pelatihan guru senilai sekitar Rp14,1 miliar.
Selama hampir 15 tahun, Google terlibat dalam peningkatan keterampilan digital masyarakat Indonesia, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pencari kerja, pengembang teknologi, hingga pendidik. Dalam beberapa tahun terakhir, melalui kemitraan dengan Kementerian Pendidikan dan pemerintah daerah, Google melatih lebih dari 290.000 guru dalam pemanfaatan kecerdasan buatan generatif melalui program Gemini Academy. Lebih dari 58.000 guru Indonesia tercatat telah lulus program internasional Gemini Certified Educator.
Menanggapi isu investasi Google pada entitas yang berafiliasi dengan Gojek, perusahaan menyatakan bahwa investasi tersebut dilakukan pada periode 2017 hingga 2021 dan sebagian besar terjadi sebelum Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan. Google menegaskan bahwa investasi tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan kebijakan pendidikan nasional maupun kerja sama pengadaan produk pendidikan. Perusahaan juga menyatakan tidak pernah menawarkan, menjanjikan, atau memberikan imbalan kepada pejabat pemerintah sebagai imbal balik atas adopsi produk Google.
Google menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen untuk terus mendukung transformasi digital pendidikan Indonesia dengan menjunjung prinsip transparansi, integritas, serta kepentingan jangka panjang dunia pendidikan nasional.

Komentar
Posting Komentar