Polsek Kuwus Bangun Jembatan Darurat Wae Songkang untuk Keselamatan 21 Pelajar Manggarai Barat
Pembangunan jembatan penyeberangan darurat di Sungai Wae Songkang, Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dimulai pada Senin (2/2/2026). Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya risiko keselamatan yang selama bertahun-tahun dihadapi pelajar setempat saat menyeberangi sungai untuk bersekolah.
Inisiatif tersebut digerakkan oleh Polsek Kuwus bersama masyarakat, serta didukung unsur TNI dari Koramil 1630/03 Macang Pacar. Pembangunan jembatan darurat ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai percepatan penyediaan infrastruktur keselamatan di wilayah terpencil, khususnya yang berdampak langsung pada akses pendidikan anak-anak.
Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar, menyatakan bahwa proyek ini merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat Kampung Lesem yang selama ini bergantung pada penyeberangan sungai berarus deras.
“Sejak kemarin kami telah memulai pembangunan jembatan darurat ini untuk memastikan mobilitas siswa dan warga lebih aman. Keselamatan anak-anak sekolah menjadi prioritas utama,” ujar IPTU Arsilinus dalam keterangannya, Selasa (3/2).
Baca Juga:
Tampung Aspirasi Pelaku Industri, Pemkab Manggarai Barat Gelar Coffee Morning
Prioritas Keselamatan Pelajar
Berdasarkan data Polsek Kuwus, terdapat 21 siswa—terdiri dari 11 murid SD dan 10 siswa SMP—yang setiap hari harus menyeberangi Sungai Wae Songkang selebar kurang lebih 20 meter untuk bersekolah di Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat. Mereka tercatat sebagai siswa SDK Wetik dan SMPN 1 Kuwus Barat.
Kondisi tersebut semakin berisiko saat musim hujan, ketika debit air meningkat dan arus menjadi sangat kuat. Situasi ini kerap menimbulkan kecemasan di kalangan orang tua.
“Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena anak-anak ingin mengenyam pendidikan. Jembatan ini adalah bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat,” tegas Kapolsek.
Sinergi Lintas Wilayah
Pembangunan jembatan ini juga mencerminkan sinergi lintas wilayah, mengingat Sungai Wae Songkang menjadi batas antara Kecamatan Pacar (wilayah hukum Polsek Macang Pacar) dan Kecamatan Kuwus Barat (wilayah hukum Polsek Kuwus).
Kesepakatan bersama antara warga kedua kecamatan yang dicapai pada 28 Januari 2026 menjadi landasan utama proyek ini.
“Perbedaan wilayah administrasi tidak menjadi penghalang. Yang utama adalah keselamatan dan kepentingan masyarakat,” kata IPTU Arsilinus.
Gotong Royong dan Swadaya Masyarakat
Pengerjaan jembatan dilakukan secara gotong royong sejak pukul 09.00 Wita. Warga bersama aparat kepolisian dan TNI bahu-membahu menggunakan material lokal berupa bambu, kayu, dan pasir yang dikumpulkan dari sekitar lokasi.
Hingga pukul 17.00 Wita, progres pembangunan mencapai sekitar 50 persen.
“Penggunaan material swadaya bertujuan menumbuhkan rasa memiliki sehingga masyarakat turut menjaga jembatan ini ke depan,” jelas Kapolsek.
Imbauan Keselamatan
Sambil menunggu penyelesaian jembatan, pihak kepolisian dan sekolah mengimbau para siswa untuk tidak memaksakan diri menyeberang saat hujan lebat. Jika kondisi tidak memungkinkan, mereka disarankan menginap sementara di rumah kerabat atau teman di Desa Golo Riwu.
Pada Selasa (3/2), tim gabungan kembali melanjutkan pekerjaan dengan fokus pada tahap finishing, meliputi pemasangan alas pijakan, pagar pengaman, serta pengecatan agar jembatan lebih kokoh dan layak digunakan.
Bagi warga Kampung Lesem, jembatan darurat ini bukan sekadar infrastruktur sementara, melainkan simbol kehadiran negara dan kepedulian aparat terhadap keselamatan serta masa depan pendidikan anak-anak di wilayah terpencil Manggarai Barat.

Komentar
Posting Komentar