Rabies: Antara Pencegahan, Penanganan, dan Kesadaran Bersama


Rabies

Rabies adalah penyakit kuno yang telah dikenal manusia selama ribuan tahun, namun hingga kini masih menjadi ancaman nyata. Virus yang menyerang sistem saraf pusat ini dapat menginfeksi manusia dan hewan berdarah panas. Begitu gejala klinis muncul, hampir selalu berakhir dengan kematian. Ironisnya, rabies merupakan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah sepenuhnya melalui vaksinasi dan kesadaran bersama.

Jejak Panjang Rabies dalam Sejarah

Sejak zaman Babilonia Kuno sekitar 2300 SM, manusia telah mencatat tentang anjing “gila” yang menularkan penyakit mematikan lewat gigitan. Filsuf Yunani Aristoteles menulis bahwa anjing yang terserang “kegilaan” dapat menulari hewan dan manusia lain.

Pada tahun 1885, ilmuwan Louis Pasteur menemukan vaksin rabies pertama di dunia. Sejak saat itu, dunia memiliki harapan baru. Namun, lebih dari satu abad berlalu, rabies masih membunuh ribuan orang setiap tahun — terutama di Asia dan Afrika. Di Indonesia, penyakit ini masih muncul di berbagai provinsi, termasuk Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.

Mengapa Rabies Masih Terjadi?

Beberapa penyebab utama mengapa rabies belum bisa diberantas sepenuhnya antara lain:


1. Kurangnya kesadaran masyarakat.

Banyak pemilik hewan belum memahami pentingnya vaksinasi rabies. Hewan peliharaan sering dianggap aman karena “jinak”, padahal virus bisa menginfeksi hewan tanpa gejala awal.

2. Tidak meratanya vaksinasi hewan.

Program vaksinasi di beberapa daerah masih terkendala tenaga medis, logistik, dan biaya.

3. Kebiasaan melepasliarkan hewan.

Anjing dan kucing yang dilepaskan bebas berpotensi bertemu hewan liar pembawa virus, lalu menularkan ke lingkungan rumah.

4. Kurangnya fasilitas kesehatan.

Banyak puskesmas belum memiliki stok vaksin anti-rabies (VAR) atau serum anti-rabies (SAR), menyebabkan keterlambatan penanganan korban gigitan.

5. Kendala geografis dan akses transportasi.

Daerah terpencil dan akses jalan yang sulit membuat korban sulit mendapatkan pertolongan cepat.


Baca juga:

Tindakan Pertama Setelah Digigit Anjing Rabies: Panduan Medis dan Obat Herbal Alami yang Terbukti Aman

Rabies Bukan Hanya Soal Anjing

Rabies sering disalahartikan sebagai “penyakit anjing”, padahal virus ini bisa ditularkan oleh semua hewan berdarah panas seperti kucing, rubah, rakun, kelelawar, dan monyet. Virus ini menyebar melalui air liur saat hewan menggigit atau mencakar manusia. Bahkan luka terbuka yang terkena air liur hewan terinfeksi bisa menjadi jalur masuk virus.

Oleh karena itu, membasmi semua anjing bukan solusi. Seekor anjing yang diikat pun bisa tertular jika digigit kelelawar liar. Langkah paling efektif tetaplah vaksinasi dan pengawasan populasi hewan.

Opini: Eliminasi Bukan Solusi

Sebagian daerah masih menggunakan metode eliminasi massal untuk menekan penyebaran rabies. Padahal, cara ini tidak menyelesaikan akar masalah. Membunuh hewan liar tanpa pengawasan vaksinasi hanya menciptakan ketakutan dan ketidakseimbangan ekosistem.

Solusi yang tepat adalah vaksinasi menyeluruh, sterilisasi, dan pendataan populasi hewan.

Pemerintah daerah bisa menerapkan sistem tanda bagi hewan yang sudah divaksin, misalnya kalung khusus atau penandaan mikrochip, agar mudah diawasi.

Kesadaran Masyarakat: Kunci Pencegahan

Kesadaran masyarakat merupakan benteng pertama melawan rabies. Setiap pemilik hewan bertanggung jawab memastikan peliharaannya divaksin secara rutin. Hewan yang sehat dan divaksin tidak hanya melindungi dirinya, tetapi juga manusia di sekitarnya.

Edukasi masyarakat juga sangat penting. Pemerintah, sekolah, dan lembaga sosial dapat berperan aktif memberikan penyuluhan tentang apa itu rabies, cara penularan, dan langkah penanganan bila terjadi gigitan.

Kesadaran kecil seperti tidak melepasliarkan hewan dan melapor bila ada kasus gigitan akan sangat membantu.

Pencegahan: Langkah Nyata yang Efektif

Beberapa langkah pencegahan rabies yang terbukti efektif antara lain:

1. Vaksinasi hewan peliharaan setiap tahun.

Anjing dan kucing perlu divaksin minimal sekali setahun.

2. Kampanye edukasi masyarakat.

Sosialisasi melalui media, komunitas, dan tokoh adat dapat meningkatkan kesadaran publik.

3. Pendekatan “One Health”.

Konsep kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mencegah zoonosis seperti rabies.

4. Pelaporan cepat.

Bila terjadi gigitan, masyarakat harus tahu ke mana melapor agar penanganan bisa segera dilakukan.

5. Pemeriksaan dan vaksinasi massal gratis.

Pemerintah perlu mengadakan vaksinasi hewan secara rutin dan menyeluruh di seluruh daerah endemik.

Penanganan Dini Saat Terjadi Gigitan

Jika seseorang tergigit hewan yang diduga rabies, langkah pertolongan pertama adalah:


1. Cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit.

Ini langkah paling penting karena bisa mengurangi risiko infeksi hingga 90%.


2. Gunakan antiseptik atau alkohol.


3. Segera ke puskesmas atau rumah sakit.

Minta vaksin anti-rabies (VAR) dan jika luka parah, serum anti-rabies (SAR).


4. Laporkan ke petugas kesehatan hewan.

Hewan yang menggigit perlu diamati selama 14 hari untuk memastikan kondisi kesehatannya.


5. Jangan oles bahan tradisional.

Rabies tidak bisa disembuhkan dengan ramuan, doa, atau bahan herbal. Penanganan medis cepat adalah satu-satunya jalan.

Tantangan Penanganan di Lapangan

Banyak daerah di Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam mengendalikan rabies. Akses terbatas ke layanan medis, kurangnya vaksin, dan minimnya dokter hewan menjadi tantangan besar.

Beberapa masyarakat masih percaya bahwa rabies bisa diobati dengan cara tradisional, padahal setelah gejala muncul, rabies 100% mematikan.

Masalah lain adalah kurangnya data akurat. Banyak kasus gigitan tidak dilaporkan karena takut, malu, atau tidak tahu prosedur pelaporan. Akibatnya, angka resmi rabies sering kali tampak lebih rendah dari kenyataan di lapangan.

Peran Pemerintah dan Kebijakan Vaksinasi

Pemerintah memiliki peran strategis dalam memberantas rabies. Program vaksinasi hewan wajib dilakukan secara rutin dan gratis di daerah rawan. Regulasi tegas tentang kepemilikan hewan peliharaan dan kewajiban vaksinasi perlu ditegakkan.

Kerjasama lintas sektor  antara Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, aparat desa, dan lembaga pendidikan  sangat dibutuhkan. Selain itu, manajemen populasi hewan liar dengan cara sterilisasi dan adopsi adalah solusi yang lebih manusiawi daripada pembasmian massal.

Menuju Indonesia Bebas Rabies 2030

WHO menargetkan dunia bebas rabies pada tahun 2030. Indonesia pun menargetkan hal serupa. Untuk mencapainya, dibutuhkan kerja sama semua pihak: masyarakat, pemerintah, tenaga kesehatan, dan media.

Rabies bukan hanya masalah medis, tetapi masalah kesadaran.

Setiap orang punya peran kecil tapi penting:

1. Pemilik hewan: vaksinasi rutin dan tidak melepasliarkan.

2. Pemerintah: menyediakan vaksin dan fasilitas kesehatan.

3. Tenaga medis: edukasi dan penanganan cepat.

4. Media: menyebarkan informasi benar tentang rabies.


Rabies Adalah Cermin Kesadaran Kita


Rabies mengajarkan kita bahwa hidup berdampingan dengan hewan harus diiringi tanggung jawab.

Vaksinasi bukan sekadar kewajiban, tapi wujud kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Penyakit ini bisa diberantas, asal kita mau bergerak bersama.


“Rabies tidak memilih korban. Tapi manusia bisa memilih: diam dan kehilangan, atau sadar dan bertindak.”








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Inosentius Samsul: 35 Tahun di DPR Hingga Jadi Hakim Mahkamah Konstitusi

PPPK Paruh Waktu Diangkat Menjadi Penuh Waktu: Desakan DPR dan DPD RI ke Pemerintah untuk Segera Bertindak

Cara Cek PKH dan PIP 2025 Lewat HP: Panduan Lengkap, Mudah, dan Resmi

Permata Tersembunyi di Manggarai Barat: Menjelajahi Air Terjun Cunca Polo

Bangga! Uskup Paskalis Bruno Syukur OFM Terpilih Jadi Anggota Penting Dikasteri Hidup Bakti Hingga 2029